Teori belajar Bruner
Dosen: Susda
Heleni, Dra. , M.Pd.
DASAR-DASAR PENDIDIKAN MIPA
“Teori Belajar Menurut Bruner”
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Belajar dianggap sebagai proses
perubahan perilaku yang merupakan akibat dari pengalaman dan latihan. Belajar
bukan sekedar mengumpulkan pengetahuan tetapi merupakan proses mental yang
terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan perubahan perilaku.
Aktifitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan
yang disadari. Banyak teori yang membahas tentang proses perubahan tingkah laku
tersebut.
Teori pembelajaran merupakan penyedia panduan bagi
pengajar untuk membantu siswa didik dalam mengembangkan kognitif, emosional,
sosial, fisik, dan spiritual. Panduan-panduan tersebut adalah kejelasan
informasi yang mendeskripsikan tujuan, pengetahuan yang diperlukan, dan unjuk
kerjaan itu penting. Hal ini adalah untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi
di dunia pendidikan. Ada dua perubahan yang perlu diantisipasi, yaitu perubahan
yang sifatnya sedikit demi sedikit (piecemeal) dan yang bersifat sistemik
(systemic). Jadi teori pembelajaran itu penting sebagai suatu dasar pengetahuan
yang memandu praktek pendidikan: “bagaimana memfasilitasi belajar” dalam dunia
pendidikan yang senantiasa berubah, terlebih dalam cakupan yang sistemik.
Praktek pembelajaran adalah suatu subsistem yang
merupakan bagian dari sebuah sistem. Jika dalam sebuah perjalanan, sistemnya
berubah, maka subsistemmnya pasti berubah, oleh karena masing-masing kebutuhan
subsistem harus memiliki titik temu dengan sistemnya supaya sistem tersebut
dapat mendukung subsistem secara berkelanjutan. Jadi perubahan sistemik yang
terjadi pada sistem pembelajaran mesti diikuti oleh perubahan sistemik pada
subsistem teori pembelajaran. Perubahan teori pembelajaran harus diikuti oleh
perubahan paradigma pembelajaran.
Alur berpikir diatas terbangun dari sejarah
perkembangan teori pembelajaran. Sebelum para tokoh psikologi membangun dan
menemukan teori belajar kognitif, terlebih dahulu sudah terdapat beberapa teori
pembelajaran yang telah muncul dan berkembang. Namun teori pembelajaran yang
ada saat itu mereka anggap masih kurang sempurna, hingga akhirnya
menginspirasikan beberapa tokoh psikologi untuk menyikapi kekurangan-kekurangan
dari beberapa teori belajar yang lebih awal yang dianggap masih ada beberapa
celah kekurangan, yang diantaranya adalah teori behavioristik. hal ini juga
berlaku untuk teori pembelajaran kognitif itu sendiri. Seiring berkembangnya
zaman selanjutnya pasti akan ditemukan kekurangan-kekurangan dari teori
kognitif ini dalam menjawab tuntutan zaman. Hal tersebut sekaligus memberikan
inspirasi bagi tokoh psikologi (di era selanjutnya) untuk mengkonstruksi teori
baru yang lebih mampu untuk menjawab tuntutan zaman.
Pada abad ke-20, psikologi telah muncul sebagai
sebuah bidang studi yang mandiri. Diantaranya dimulai dengan kemunculan aliran
strukturalisme dan juga fungsionalisme yang didalamnya terdapat tokoh psikologi
ternama, Dewey. Dari dialektika keduanya muncul asosiasionisme yang digagas
oleh Torndike dan Ebbinghaus. Dari aliran yang terahir ini kemudian membuka
jalan kemunculan behaviorisme. Langkah lain menuju behaviorisme adalah temuan
Pavlov tentang prinsip-prinsip pengkondisian klasik. Perkembangan serta proses
diskusi yang mendalam atas behaviorisme ini selanjutnya mendorong lahirnya
psikologi kognitif sebagai sebuah ilmu yang mandiri.
Tujuan belajar yang paling utama adalah apa yang
dipelajari itu berguna dikemudian hari, yakni membantu kita untuk dapat belajar
terus dengan cara yang lebih mudah. Hal ini dikenal sebagai transfer belajar.
Apa yang kita pelajari dalam situasi tertentu memungkinkan kita untuk memahami
hal-hal lain. Transfer inilah yang menjadi inti dalam proses belajar.
Demikian pula dengan tujuan pelajaran bukan hanya
penguasaan prinsip-prinsip yang fundamental, melainkan juga mengembangkan sikap
yang positif terhadap belajar, penelitian, penemuan, serta pemecahan masalah
atas kemampuan sendiri. Menyajikan konsep-konsep yang fundamental saja tidak
dengan sendirinya menimbulkan sikap demikian. Masih perlu penelitian dalam soal
ini. Namun dianggap proses menemukan sendiri akan menimbulkan sikap demikian.
B. Rumusan Masalah
Dengan latar belakang
yang telah dikemukakan, maka penulis merumuskan beberapa masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini, adapun masalah tersebut adalah:
1.
Bagaimana
teori belajar menurut Jerome Bruner ?
2.
Bagaimana
teori belajar matematika menurut Jerome Bruner?
3.
Apa saja
alat mengajar menurut Jerome Bruner?
4.
Bagaimana
aplikasi teori Jerome Bruner dalam pembelajaran matematika ?
C. Tujuan
Penulisan makalah ini dilakukan untuk memenuhi
tujuan-tujuan yang diharapkan
bermanfaat dalam proses pembelajaran tentang belajar dan pembelajaran.
Secara terperinci, tujuan
dari penulisan makalah ini adalah untuk :
1.
Untuk
mengetahui teori belajar menurut Jerome Bruner
2.
Untuk
mengetahui teori belajar matematika menurut Jerome Bruner
3.
Untuk
mengetahui alat mengajar menurut Jerome Bruner
4.
Untuk
mengetahui aplikasi teori Jerome Bruner dalam pembelajaran matematika
D. Manfaat
Penulis menulis makalah ini yaitu agar bermanfaat bagi
pembaca. Makalah ini dapat memberikan pemahaman mengenai teori
belajar Bruner
1.
Mempunyai landasan untuk mengajar
sehingga pembelajaran menjdi efektif.
2.
Memberikan pengalaman agar dapat menjadi
pengajar yang baik sesuai yang diinginkan peserta didik.
3.
Agar pendidik mengetahui bagaimana
karakter peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teori Belajar Bruner
Jerome S.
Bruner (1915) adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi
belajar kognitif. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik.
Penelitiannya yang demikian banyak itu meliputi persepsi manusia, motivasi,
belajar, dan berpikir. Dalam mempelajari manusia, Ia menganggap manusia sebagai
pemproses, pemikir, dan pencipta informasi (dalam Wilis Dahar, 1988;118).
Dasar pemikiran teori Jerome S. Bruner memandang bahwa manusia sebagai pemproses, pemikir dan pencipta informasi.
Bruner menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan
manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada
dirinya. Ada tiga proses kognitif yang terjadi dalam belajar, yaitu proses
perolehan informasi baru (melalui kegiatan membaca, mendengarkan penjelasan
guru dan lain-lain), proses mentransformasikan informasi yang diterima
(bagaimana memperlakukan pengetahuan yang sudah diterima agar sesuai dengan
kebutuhan) dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
Bruner berpendapat bahwa belajar merupakan faktor yang menentukan dalam
pembelajaran dibandingkan dengan perolehan khusus, yaitu metode penemuan (dicovery).
Metode discovery learning ini mendorong siswa untuk belajar
sendiri secara mandiri. Adapun tahap-tahap penerapan belajar penemuan adalah
stimulus (pemberian perangsang), problem statement (mengidentifikasi masalah),
data collection ( pengumpulan data), data prosessing (pengolahan data),
verifikasi, generalisasi.
Yang menjadikan dasar ide J. Bruner ialah pendapat dari Piaget yang
menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif di dalam belajar di kelas.
Untuk itu, bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya “discovery
learning”, yaitu dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan
suatu bentuk akhir. Prosedur ini berbeda dengan reception learning atau expository
teaching, di mana guru menerangkan semua informasi dan murid harus
mempelajari semua bahan/ informasi itu.
2.2 Teori Belajar Matematika
Adapun menurut Bruner belajar matematika adalah belajar mengenai
konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat didalam materi
yang dipelajari serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur
matematika itu. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya
dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual
problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara
bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk dapat meningkatkan
keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan alat peraga atau media
lainnya. Pendekatan dan strategi pembelajaran hendaknya mengikuti kaidah
pedagogi secara umum, yaitu pembelajaran diawali dari kongkret ke abstrak, dari
sederhana kekompleks, dari yang mudah kesulit dengan menggunakan berbagai
sumber belajar.
Menurut
Bruner untuk memahami konsep-konsep yang sifatnya abstrak, dibutuhkan wakil
(representasi) yang dapat ditangkap oleh indera manusia.Bruner juga
mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan untuk
memanipulasi benda-benda (alat peraga). Melalui alat peraga yang ditelitinya
itu, anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang
terdapat dalam benda yang sedang diperhatikannya itu. Keteraturan tersebut
kemudian oleh anak dihubungkan dengan keterangan intuitif yang telah melekat
pada dirinya.
Dengan memanipulasi
alat-alat peraga, siswa dapat belajar melalui keaktifannya.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bruner, belajar merupakan suatu
proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru di luar
(melebihi) informasi yang diberikan pada dirinya. Sebagai contoh, seorang siswa
yang mempelajari bilangan prima akan bisa menemukan berbagai hal yang penting
dan menarik tentang bilangan prima, sekalipun pada awal mula guru hanya
memberikan sedikit informasi tentang bilangan prima kepada siswa tersebut.
Teori Bruner tentang kegiatan manusia tidak terkait dengan umur
atau tahap perkembangan (berbeda dengan Teori Piaget). Ada dua
bagian yang penting dari teori Bruner , yaitu :
a. Tahap-Tahap Dalam Proses Belajar
b. Teorema-teorema Tentang Cara Belajar dan Mengajar
Matematika
Penjelasan tentang kedua bagian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tahap-Tahap
Dalam Proses Belajar
Menurut Bruner,
jika seseorang mempelajari suatu pengetahuan (Misalnya mempelajari suatu konsep
Matematika), pengetahuan itu perlu dipelajari dalam tahap-tahap tertentu,
agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif)
orang tersebut. Proses internalisasi akan terjadi secara
sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar terjadi secara optimal)
jika pengetahuan yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga tahap, yang
macamnya dan urutannya adalah sebagai berikut :
a. Tahap
enaktif, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu
pengetahuan di mana pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan
menggunakan benda-benda kongkret atau menggunakan situasi yang nyata.
b. Tahap
Ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pegetahuan
itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual
imagery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan konkret atau
situasi konkret yang terdapat pada tahap enaktif tersebut di atas.
c. Tahap
simbolik, yaitu suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan itu
direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (Abstract symbols yaitu
simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam
bidang yang bersangkutan), baik simbol-simbol verbal (Misalnya huruf-huruf, kata-kata,
kalimat-kalimat) lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak
lainnya. Menurut Bruner, proses belajar akan berlangsung secara
optimal jika proses pembelajaran diawali dengan tahap enaktif, dan kemudian
jika tahap belajar yang pertama ini telah dirasa cukup, siswa beralih ke
kegiatan belajar tahap kedua, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus
representasi ikonik, dan selanjutnya, kegiatan belajar itu diteruskan dengan
kegiatan belajar tahap ketiga yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus
representasi simbolik.
2. Teorema-Teorema
Tentang Cara Belajar Dan Mengajar Matematika
Menurut
Bruner ada empat prinsip prinsip tentang cara belajar dan mengajar matematika
yang disebut teorema. Keempat teorema tersebut adalah teorema penyusunan (Construction
theorem), teorema notasi (Notation theorem), teorema
kekontrasan dan keanekaragaman (Contras and variation
theorem), teorema pengaitan (Connectivity theorem) .
a) Teorema
penyusunan (Construction theorem)
Teorema ini
menyatakan bahwa bagi anak cara yang paling baik untuk belajar konsep dan
prinsip dalam matematika adalah dengan melakukan penyusunan representasinya.
Pada permulaan belajar konsep pengertian akan menjadi lebih melekat apabila
kegiatan yang menujukkan representasi konsep itu dilakukan oleh siswa sendiri.
Dalam proses
perumusan dan penyusunan ide-ide, apabila anak disertai dengan bantuan
benda-benda konkrit mereka lebih mudah mengingat ide-ide tersebut. Dengan
demikian, anak lebih mudah menerapkan ide dalam situasi nyata secara tepat.
Dalam hal ini ingatan diperoleh bukan karena penguatan, akan tetapi pengertian
yang menyebabkan ingatan itu dapat dicapai. Sedangkan pengertian itu dapat
dicapai karena anak memanipulasi benda-benda konkrit. Oleh karena itu pada
permulaan belajar, pengertian itu dapat dicapai oleh anak bergantung pada
aktivitas-aktivitas yang menggunakan benda-benda konkrit.
Contoh,
untuk memahami tentang konsep kubus atau balok maka guru memperlihatkan
benda-benda dalam kehidupan sehari-hari yang berbentuk kubus atau balok.
b) Teorema
Notasi
Teorema
notasi mengungkapkan bahwa dalam penyajian konsep, notasi memegang peranan
penting. Notasi yang digunakan dalam menyatakan sebuah konsep tertentu harus
disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif siswa. Ini berarti untuk menyatakan
sebuah rumus misalnya, maka notasinya harus dapat dipahami oleh anak, tidak
rumit dan mudah dimengerti.
Notasi yang
diberikan tahap demi tahap ini sifatnya berurutan dari yang paling sederhana
sampai yang paling sulit. Urutan penggunaan notasi disesuaikan dengan tingkat
perkembangan kognitif anak.
c) Teorema
pengkontrasan dan keanekaragaman
Dalam
teorema ini dinyatakan bahwa dalam mengubah dari representasi konkrit menuju
representasi yang lebih abstrak suatu konsep dalam matematika, dilakukan dengan
kegiatan pengontrasan dan keanekaragaman. Artinya agar suatu konsep yang akan
dikenalkan pada anak mudah dimengerti, konsep tersebut disajikan dengan
mengontraskan dengan konsep-konsep lainnya dan konsep tersebut disajikan dengan
beranekaragam contoh. Dengan demikian anak dapat memahami dengan mudah
karakteristik konsep yang diberikan tersebut.
Untuk
menyampaikan suatu konsep dengan cara mengontraskan dapat dilakukan dengan
menerangkan contoh dan bukan contoh. Sebagai contoh untuk menyampaikan konsep
bangun ruang maka pada anak diberikan beberapa gambar dan siswa menunjukkan
gambar yang termasuk bangun ruang dan yang bukan merupakan bangun ruang.
Dengan
contoh soal yang beranekaragam, kita dapat menanamkan suatu konsep dengan lebih
baik daripada hanya contoh-contoh soal yang sejenis saja. Dengan keanekaragaman
contoh yang diberikan siswa dapat mengenal dengan jelas karakteristik konsep
yang diberikan kepadanya. Misalnya, dalam pembelajaran konsep persegi panjang,
persegi panjang sebaiknya ditampilkan dengan berbagai contoh yang bervariasi,
misalnya ada persegi panjang yang posisinya bervariasi (ada yang kedua sisinya
yang berhadapan terletak horisontal dan dua sisi yang lainnya vertikal,
ada yang posisinya miring, dan sebagainya).
d) Teorema
pengaitan (Konektivitas)
Teorema ini
menyatakan bahwa dalam matematika antara satu konsep dengan konsep lainnya
terdapat hubungan yang erat, bukan saja dari segi isi, namun juga dari segi
rumus-rumus yang digunakan. Materi yang satu mungkin merupakan prasyarat bagi
yang lainnya, atau suatu konsep tertentu diperlukan untuk menjelaskan konsep
lainnya. Seperti pada penentuan luas sisi bangun ruang balok maka dibutuhkan
pengetahuan prasyarat siswa tentang luas persegi panjang.
Guru harus
dapat menjelaskan kaitan-kaitan tersebut pada siswa. Hal ini penting agar siswa
dalam belajar matematika lebih berhasil. Dengan melihat kaitan-kaitan itu
diharapkan siswa tidak beranggapan bahwa cabang-cabang dalam matematika itu
sendiri berdiri sendiri-sendiri tanpa keterkaitan satu sama lainnya.
Perlu
dijelaskan bahwa keempat teorema tersebut di atas tidak dimaksudkan untuk
diterapkan satu persatu dengan urutan seperti di atas. Dalam penerapannya, dua
teorema atau lebih dapat diterapkan secara bersamaan dalam proses pembelajaran
suatu materi matematika tertentu. Hal tersebut bergantung pada karakteristik
dari materi atau topik matematika yang dipelajari dan karakteristik dari siswa
yang belajar.
2.3 Alat Mengajar Menurut Jerome Bruner
Jerome Bruner membagi alat
instruksional dalam empat macam menurut fungsinya antara lain:
1.
Alat untuk menyampaikan pengalaman “vicaorus” (sebagai
pengganti pengalaman yang langsung) yaitu menyajikan bahan yang sedianya tidak
dapat mereka peroleh secara langsung di sekolah. Hal ini dapat dilakukan
melalui film, TV, rekaman suara dan sebagainya.
2.
Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang
struktur atau prinsip suatu gejala misalnya model molekul, model bangun ruang;
3.
Alat dramatisasi, yakni mendramatisasikan sejarah suatu
peristiwa atau tokoh, film tentang alam, untuk memberikan pengertian tentang
suatu idea atau gejala;
4.
Alat automatisasi seperti teaching machine atau
pelajaran berprograma yang menyajikan suatu masalah dalam urutan teratur dan
memberikan balikan atau feedback tentang respon siswa. Telah banyak alat-alat
yang tersedia bagi guru namun yang penting adalah bagaimana menggunakan
alat-alat itu sebagai suatu system yang terintegrasi.
2.4 Aplikasi Teori
Bruner Dalam Pembelajaran Matematika
Penerapan teori belajar Bruner dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan:
1.
Sajikan contoh dan bukan contoh dari konsep-konsep
yang anda ajarkan. Misal : untuk contoh mau mengajarkan bentuk bangun datar
segiempat, sedangkan bukan contoh adalah berikan bangun datar segitiga, segi
lima atau lingkaran.
2.
Bantu si belajar untuk melihat adanya hubungan antara
konsep-konsep. Misalnya berikan pertanyaan kepada sibelajar seperti berikut ini
” apakah nama bentuk ubin yang sering digunakan untuk menutupi lantai
rumah? Berapa cm ukuran ubin-ubin yang dapat digunakan?
3.
Berikan satu pertanyaan dan biarkan biarkan siswa
untuk mencari jawabannya sendiri. Misalnya Jelaskan ciri-ciri/ sifat-sifat dari
bangun Ubin tersebut?
4.
Ajak dan beri semangat si belajar untuk memberikan
pendapat berdasarkan intuisinya. Jangan dikomentari dahulu atas jawaban siswa, kemudian
gunakan pertanyaan yang dapat memandu si belajar untuk berpikir dan mencari
jawaban yang sebenarnya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Menurut Bruner untuk memahami konsep-konsep yang
sifatnya abstrak, dibutuhkan wakil (representasi) yang dapat ditangkap oleh
indera manusia.Bruner juga mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak
sebaiknya diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat peraga).
Melalui alat peraga yang ditelitinya itu, anak akan melihat langsung bagaimana
keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang sedang
diperhatikannya itu.
Bruner membagi tahap-tahap perkembangan kognitif anak
dalam tiga tahap yaitu tahap enaktif, tahap ikonik dan tahap simbolik. Beberapa
konsep dalam pembelajaran matematika dapat diuraikan langkah-langkah
pembelajaran menurut Bruner, mulai modus representasi enaktif, ikonik, dan
simbolik. Seperti pada materi bangun ruang sisi datar contohnya pemahaman
konsep volum balok atau membuat jaring-jaring kubus.
Selain teori perkembangan kognitif, Bruner
mengemukakan teorema-teorema tentang cara belajar dan mengajar matematika
yaitu:
a.
Teorema konstruksi (Construction Theorem)
b.
Teorema Notasi (Notation Theorem).
c.
Teorema kekontrasan dan variasi (Contrast and variation
theorem)
d.
Teorema konektivitas (Connectivity theorem)
B.
Saran
1.
Pengajaran matematika hendaknya diarahkan agar guru
mampu secara sendiri menyelesaikan masalah-masalah lain yang diselesaikan
dengan bantuan teori belajar matematika. Begitu pentingnya pengetahuan teori
belajar matematika dalam sistim penyampaian materi di kelas, sehingga setiap
metode pengajaran harus selalu disesuaikan dengan teori belajar yang
dikemukakan oleh ahli pendidikan.
2.
Tidak hanya tingkat kedalaman konsep yang diberikan
pada siswa tetapi harus disesuaikan dengan tingkat kemampuannya, cara
penyampaian materi pun demikian pula. Guru harus mengetahui tingkat
perkembangan mental siswa dan bagaimana pengajaran yang harus dilakukan sesuai
dengan tahap-tahap.
3.
Diharapkan guru yang membaca makalah ini dapat
menerapkan teori belajar Bruner dalam pengajaran matematika di sekolah
DAFTAR PUSTAKA
Ardhi.
Diakses pada tanggal 19 april 2011. http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2009/10/07/teori-belajar-bruner/
Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Yogyakarta : Andi
Nasution, s . 2000. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan
Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
Simanjuntak, Lisnawati. 1993. Metode Mengajar Matematika. Jakarta :
Rineka Cipta
Sujana, Nana. 1990. Teori-Teori belajar untuk Pengajaran.
Jakarta: LPFE UI
Thanks a lot,,,
BalasHapus